DIARI YANG TERLUPA

Vina sesaat membolak-balikkan bukunya yang berwarna pink. Dihiasi corak bunga-bunga. Wajahnya mendung. Semendung udara sore itu. Emosinya meluap-luap. Darahnya bergejolak. Segala emosinya ia tumpahkan di tangan. Tepatnya di tulisan. Setiap detil tulisannya mengandung sebuah kekecewaan yang begitu dahsyat. Pagi tadi dirinya diputus pacarnya di sekolah. Hatinya  hancur seketika. Seperti petani yang tahu hasil jerih payahnya selama setahun tidak dapat dipanen. Seperti seorang sang pelukis yang menyadari lukisannya ternodai sebelum acara pemeran lukisan. Dan seperti seorang siswa yang kehilangan hasil experimennya setelah meneliti selama 2 tahun!

Diary kemudian menjadi begitu amat penting bagi Vina. Ia menumpahkan segala kekesalan di Diary. Diarinya diisi oleh warna-warna cintanya dengan kekasihnya juga kelabunya cinta. Diarinya dipenuhi segala puisi cinta, puisi kemesraan. Dan begitulah diarinya yang diisi oleh hal-hal berbau merah jambu..

Diary terkadang bagi sebagian orang hanya diidentikkan dengan perempuan. Lemah lembut. Merah jambu. Cinta. Kasih Sayang. Yang amat berlawanan dengan watak laki-laki yang garang, sangar, cool, macho dan sebagainya. Sehingga sebagian kaum Adam jarang sekali bersentuhan dengan diary. Contohnya saja, penulis ketika waktu SD dulu mengganggap diari sebagai sebuah barang yang feminim sekali. Padahal sebenarnya diary tidak selalu identik dengan wanita yang merah jambu, kasih sayang dsb.

Menilik esensinya, Diary itu sendiri adalah sebuah catatan harian. Dimana seseorang menuliskan kejadian sehari-hari di sebuah benda segi empat. Jadi seorang laki-laki pun juga bisa memiliki diary. Menuliskan kehidupan. Menuliskan keseharian.. Mungkin karena perempuan lebih mudah tersentuh dengan keadaan akhirnya ia akan menumpahkan segala kepenatan kepada aesuatu. Yang akhirnya perempuan banyak memiliki diary. Hingga pada suatu klimaks bertambah yakinlah sang kaum Adam bahwa diary itu cocoknya dengan perempuan. Lebih feminim!

Sebenarnya jika kita mau menengok kembali manfaat diari. Kita mungkin malah punya semangat untuk menuliskan segala keseharian kita dalam diary. Nah manfaat yang pertama adalah Diari akan menuliskan segala kejadian atau peristiwa yang menurut kita penting. Contohnya ketika kita tadi pagi habis dimarahin oleh dosen gara-gara tidak mengerjakan tugas kuliah tau malah tadi pagi kita untuk pertama kalinya terlamabat berangkat sekolah. Dan berbagai peristiwa yang pernah kita alami semua. Catet tuh!

Yang kedua, diari akan menuliskan eksistensi kita. Saya ulangi kembali… eksistensi kita. Ya…kita! kok bisa…? Padahalkan diari itu hanya kita sendiri yang tahu, bagaimana mungkin keberadaan kita dilacak orang lain? Begini, diari itu akan menunjukkan eksistensi kita hidup di dunia. Diari akan menunjukkan bahwa kita pernah hidup di dunia ini. Yang hanya sekali ini kawan! Dengan sebuah diari kita akan meninggalkan jejak. Cucu-cucu kita barangkali suatu saat menemukan diari kita. Dan dia akan menemukan siapa diri kita lebih dari yang ia kenal sebatas kakek-cucu. Mungkin dengan melihat diari kita ( yang tidak hanya diisi oleh cerita romantisme tentu saja) keturunan kita akan mengetahui segala pemikiran-pemnikiran kita. Segala apa yang pernah kita pikirkan ketika hidup di dunia. Nah begitulah mungkin jika pada akhirnya diary kita memberikan ispirasi tidak hanya kepada keturunan kita, bahkan orang lain. Melalui pemikiran-pemikiran kita yang kita tuliskan lewat diari. Tapi kawan ingat bahwa diari itu ditulis dengan kejujuran. Jangan anggap suatu saat diari ini akan diperlihatkan kepada orang lain. Biarlah hati, emosi, pemikiran kita bebas menuliskan segala kepenatan dalam keseharian ini.

Yang ketiga, diari akan menjadi alat evaluasi hidup kia. Bahwa perilaku kita dapat kita perbaharui dengan melihat segala kejelekan yang pernah kita perbuat. Segala perilaku kita esok adalah cerminan perilaku kita saat ini. Jadi semakin kita tahu letak segala keburukan kita, maka semakin kita menjadi manusia yang lebih baik. Bukankah kita ini never ending improvemen!

Yang keempat, dengan sering menulis maka kita akan terasah dalam penulisan. Semakain lebih jeli dalam memilih kata di diari. Dengan diksi yang baik. Begitulah jika tulisan kita semakin terasah. Maka dalam proses selanjutnya kita tidak hanya menuliskan keseharian kita. Namun juga meng-kritisi sesuatu. Kritis bukan berarti kritik tetapi mengkritik juga sekaligus memberi solusi. Jadi. Diari kita diiisi oleh tulisan-tulisan kita yang semakin terasah. Pada akhirnya kita melangkah lagi dengan tahapan menulis sebuah buku!

Sebenarnya amat banyak manfaat yang kita dapat dengan menulis diari, mungkin jika Gie tidak peranh menuliskan catatan hariannya ketika itu, barangkali tidak akan pernah ada film gie. Dan mungkin jika anda tidak pernah menuliskan diari, tulisan anda tidak akan pernah menggigit.

Bertahaplah menulis diari. Biasanya menulis diari itu bagi pemula ketika ada mood. Lalu kapan datangnya mood? Biasanya jika melihat fenomena seseuatu muncullah apa yang disebut dengan rasa mangkel, emosi memuncak, maka saat itu… tulis! Atau sedang senang ingin mencurahkan segala kegembiraan. Tulislah sebebasnya! Jangan takut salah. Karena diari tidak akan dilihat orang. Tidak akan dikritik orang. Karena memang ini bukan tempat pameran tulisan. Ini private Area!

————————–

 

written by:gonaku-sense

1 Response so far »

  1. 1

    tamu said,

    Mas Gonaku artikel lainnya mana?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: