YUK MENULIS OPINI

Artikel ini diadopsi dari penulislepas.com:

Bagaimana menulis tulisan bergenre opini? Banyak pertanyaan demikian yang hinggap kepada kita. Satu kunci praktis, cermati logika dan diksi alias pilihan kata yang kita gunakan. Untuk meyakinkan orang, jenis tulisan opini mengandalkan logika melalui diksi yang efektif. Akan lebih baik jika kita belajar langsung dengan praktek dan contoh kasus.

Nah, berikut ada dua contoh tulisan opini yang sampai kepada saya. Kebetulan di salah satu organisasi kepenulisan, saya diamanahi menjadi mentor menulis. Dan dua penulis muda dan berbakat ini termasuk salah satu dalam kelompok mentoring kepenulisan saya. Dalam bentuk aslinya, kedua tulisan di bawah ditulis tangan dengan minimal 5 paragraf dan hanya diberi waktu maksimal 30 menit untuk penyelesaian. Cara menulis cepat (fast writing) cukup berguna untuk mengalirkan ide dengan cepat–demi mengatasi kebekuan dan kelambanan berpikir–sebelum akhirnya kita menghasilkan tulisan yang padu dan lengkap.

Tulisan 1: “Matinya Sebuah Media”

“Pembohong dusta!” bentak seorang politikus ternama bangsa ini. Kita pun sering menemukan “kebohongan” di atas lembar kertas media. Kadangkala bahkan sering media dijadikan alat efektif menyebarluaskan “virus” kebohongan. Media apapun itu tak lepas dari penyakit ini.

Media elektronik, media cetak dan media komunikasi lainnya patutlah kita kritisi. Televisi misalnya. Betapa banyak “virus” kebohongan memasuki media ini. Kita sudah sering menyaksikan tayangan sinetron yang membohongi pemirsa.

Ambil contoh, sinetron yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV negeri ini. Sinetron itu menceritakan seorang cewek yang menyamar menjadi lelaki. Pemeran utama, sang cewek itu, hidup sekamar kos dengan cowok. Anehnya, cowok itu tidak mampu mengidentifikasi penyamaran sang cewek.

Secara nalar, hal itu tak mungkin terjadi. Seorang lelaki dan perempuan perbedaannya jelas. Tidak ada “gray area” di situ. Keduanya memiliki perbedaan yang terang benderang.

Saya pikir, semua media, media apapun itu, nalar, kejujuran adalah hal utama. Tidak perlu membohongi diri sendiri atau membohongi publik. Tidak perlu!

Kalau saja media bangsa ini bersikukuh menyebarluaskan “virus” kebohongan, tidak menutup kemungkinan media bangsa ini segera wafat, berguguran, dan hilang tanpa bekas.

Komentar:

Secara teknis, tulisan yang bergenre opini ini OK. Meski ada beberapa catatan:

1. Perhatikan kalimat pembuka : “Pembohong dusta!” bentak seorang politikus ternama bangsa ini. Pertanyaan: Kenapa ia memaki? Dalam konteks apa ia marah?Tentu lebih pas jika disebutkan dalam kasus apa sang pejabat memaki. Misal, dalam kasus dugaan korupsinya yang disebarluaskan media. Jadi pembaca dapat melihat relevansi antara kalimat pembuka dan tema besar tulisan. Get the reader connected at first chance! Itu prinsipnya.

2. Berkali-kali kata “virus kebohongan” diberi tanda kutip. Memang kata ini dalam konteks kebohongan media bermakna konotatif, bukan makna sebenarnya. Tetapi lazimnya, termasuk dalam jurnalistik, jika di bagian awal kata tersebut sudah diberi tanda kutip maka di bagian selanjutnya tidak diperlukan lagi tanda kutip tersebut. Contoh: Betapa banyak “virus” kebohongan memasuki media ini (paragraf 1). Maka selanjutnya seperti di paragraf 6 kata “virus” harus ditulis tanpa tanda kutip lagi sbb: “Kalau saja media bangsa ini bersikukuh menyebarluaskan virus kebohongan…”

3. Hindari ballast (kata yang mubazir atau berlebihan). Pramoedya Ananta Toer berpesan bahwa kata yang baik semestinya “berdentang”.Maksudnya, efektif dan “bunyi”, tidak berlebihan. Perhatikan kalimat akhir: “…tidak menutup kemungkinan media bangsa ini segera wafat, berguguran, dan hilang tanpa bekas.” Cukuplah “…berguguran dan hilang tanpa bekas.” Jika ingin lebih “bunyi”, pakai saja kata “mati” ketimbang “wafat” yang lebih menyiratkan kondisi kematian yang lebih mengenaskan seperti kematian hewan atau tumbuhan seperti “…mati dan hilang tanpa bekas.”

Untuk isi tulisan, idenya menarik tentang premis matinya sebuah media karena soal kebohongan. Sayang argumen lemah dan kurang dieksplorasi. Perhatikan isi paragraf 1. Semestinya jika dieksplorasi lebih di mana penulis mencoba berpikir radikal (mendasar dan bebas) dan penuh rasa ingin tahu mestinya penulis harus mengulas mengapa media terdorong menyebarkan virus kebohongan. Faktor dominasi modal asingkah? Idelogiskah?Atau apa? Alhasil, jika demikian, opini menjadi lebih balance (seimbang) dan tidak sekadar teriakan penghakiman sepihak.

Catatan lain, lihat paragraf 3, 4 dan 5, penulis menyoal betapa mustahilnya sang cowok tidak mengetahui bahwa teman sekamarnya berjenis kelamin lain. Yang aneh, setelah pada paragraf 3 dan 4 menyoal “kemustahilan” tersebut—yang sebetulnya debatable karena bisa jadi ada teknik penyamaran yang canggih—penulis mengaitkan dengan prinsip kejujuran media. Duh! Ini bagaikan membandingkan apel dengan duren.

Marilah kita berpikir lateral seperti anjuran Edward D. Bono. Sinetron pada hakikatnya, seperti karya fiksi yang lain, bertujuan “membohongi” dalam pengertian positif. Jadi jangan dikontradiksikan dengan peringatan Qur’an soal para penyair yang lancung dalam Surah Asy-Syu’ara. Nah, contoh yang dikemukakan penulis, dengan mengambil contoh sinetron tersebut, bukanlah soal kebohongan tetapi lebih mengenai ketidakprofesionalan penggarapan cerita atau penyutradaraan. Di samping itu, argumen soal kemustahilan tsb seperti saya sebutkan di awal rawan menjadi bahan perdebatan (debatable) yang malah mengurangi nilai tulisan ini. Sebaiknya pungut argumen yang kuat dan logis dan bebas dalam tulisan bergenre opini ini.

Tulisan 2: “Sebuah Politik Media”

Bagaimana dengan suatu sebutan kita di sebut sebagai “penulis”? Kita berbangga, bersukacita, kita akan di kenal. minimal kita akan menjadi bahan pembicaraan di suatu media. Kita tentu akan menjadi lebih dari pada yang lain. Kita lebih bisa mengeksplorasi diri kita.

-Begitu banyak tempat kita untuk menulis, Ada media cetak, media audiovisual, media saja. Dan tentu pilihan kita untuk menjadi aktor mengisi segala media itu. Jadi begitu banyak media yang akan menjadi tempat kita untuk menumpahkan karya kita.

-Tak lelah untuk mengirim karya harus menjadi tonggak semangat bagi kita. tapi kita lihat dulu bagaimana sebuah media ini, banyak sekali faktor yang membuat suatu media mau menampangkan karya kita untuk dinikmati konsumennya.

-Sebuah media adalah sebuah corporate yang mempunyai banyak sekali kaki untuk membuat suatu media itu bisa tetap eksis dan tentunya satu ideologi yang sama antara kaki penopang suatu media adalah sesuatu yang tidak bisa di ganggu gugat oleh kita seorang penulis, kalaupun yang kita tawarkan tidak sesuai dengan idiologi sebuah media ya kita tidak usah berkecil hati banyak sekali media yang mau menerima karya kita, karena banyak sekali media yang mengusung idiologi yang berbeda.

Bukankah begitu enaknya kita hidup di era ini. Begitu media yang dapat kita nikmati dan begitu juga banyak media yang akan menjadi alat kita untuk tempat eksplorasi diri, dan yang tak kalah penting dengan media kita dapat memberikan satu ibrah bagi sesama.

Dan inilah kesempatan kita untuk bisa mendobrak media agar mau menampangkan karya kita tanpa lelah kita berkarya karena kita menjadi tuan bagi diri kita sendiri.

Komentar:

Kesan pertama saya membaca tulisan ini: lelah! Banyak pergantian antarkalimat yang tidak ditandai dengan tanda titik. Demikian juga tanda koma yang bertebaran di mana-mana. Padahal tanda koma dalam tulisan tidaklah mesti sama seperti jeda nafas kita jika mengucapkan kalimat secara lisan. Faktor pemaragrafan yang tak jelas juga cukup menyiksa. Tolong gunakan pemaragrafan menjorok ke dalam atau berjarak satu ketukan di bawah.Selain itu, penulis juga harus lebih cermat membedakan ragam bahasa lisan atau tulisan. Sekali lagi, ini bukan bukan masalah benar atau salah tetapi lebih pada kepantasan, cocok atau tidak dengan gaya dan sifat tulisan.

Cermati juga pelafalan kata asing seperti ideology yang diserap dalam bahasa Indonesia menjadi “ideologi” bukan “idiologi”. Itu mengingatkan saya pada ejaan buku-buku tahun 50-an.

Soal judul, “Sebuah Politik Media”, agak ambigu atau mendua. Maksudnya apakah berarti ada sebuah (kebijakan) politik yang ditempuh media? Ternyata jika terus dibaca hingga akhir tidak demikian maksudnya.Tulisan ini lebih cocok diberi judul “Politik Media”. Sementara diksi atau pilihan kata, seperti judul, banyak yang tidak “bunyi”. Sebaiknya penulis banyak-banyak membaca buku atau koran agar wawasan atau kosakatanya bertambah. Contoh, seperti di paragraf 3, lebih cocok menggunakan kata “memampang” bukan “menampangkan”. “Menampangkan” berasal dari kata “tampang” yang lebih cocok untuk citra persona atau orang. Tidak dapat untuk menggantikan istilah “menerbitkan” atau “mempublikasikan”. Nah, banyak membaca menjaga agar logika tulisan tidak semrawut seperti dalam tulisan ini. Konon orang yang banyak menulis cenderung memiliki pola pikir yang teratur. Sayangnya tulisan yang bagus ini tidak ditopang dengan logika yang teratur dan kuat. Alhasil, menjadi lemahlah ia.

Namun, saya suka idenya. Tulisan ini ibarat intan yang tersaput lumpur. Ia hanya perlu digosok keras-keras agar mengkilat dan keluar cahayanya. Maka penulis lebih baik menggosok “intan” tersebut dengan banyak membaca buku-buku fiksi atau teknik menulis sehingga diksi lebih efektif dan teknik lebih OK.

Bagaimana?

Semoga ada manfaat yang dapat diambil. Keep writing!

Jakarta, 29 November 2007

http://www.nursalam.multiply.com

Leave a comment »

HP, usaha teknologi yang menguntungkan

Oleh: Mufti Alam Adha

HP atau handphone, sudah tidak asing lagi ditelinga kita yang mulai beredarnya ditahun milenium ini. Dari bentuk super besar pada awal munculnya sampai sekarang ini ada HP yg super kecil dan tipis. Dari tahun ketahun HP selalu berganti bentuk, kecanggihan, dan gaya. Persaingan antar pemilik perusahaan HP2 ternama semakin ketat dan semakin kuat, setiap produsen HP ingin agar produk yang mereka perjualkan dapat laku keras dipasaran. Oleh karena itu, segala cara dicoba untuk mewujudkan impian tersebut.

Seperti yang kita tahu produsen2 HP seperti NOKIA, SONY ERICSSON, LG, HI-TECH, SAMSUNG, MOTOROLA, SIEMENS, DAN LAIN-LAIN. Selalu membuat produk2 terbaik buat konsumen dengan tekhnologi tercanggih, kamera terbaik, suara musik terjernih, dan lain-lain. Semua itu dilakukan agar HP yang mereka produksi dapat diterima dan dinikmati oleh pelanggan HP sedunia. Sehingga HP yang mereka produksi dapat tetap eksis bersaing dipasar HP dunia.

Baca entri selengkapnya »

Comments (2) »

Global warming

Udara semakin panas, banjir dimana-mana, Gempa bumi,tanah longsor,lumpur lapindo adalah beberapa dari bencana alam yang telah melanda indonesia. Kita pasti telah merasakan apa yang terjadi pada negara tercinta dan tempat dimana kita menginjakkan kaki ini tetapi bukan hanya indonesia saja yang merasakan bencana alam serupa. Ternyata orang-orang seluruh dunia juga telah merasakannya, perubahan iklim atau climate change yang tidak teratur telah melanda seluruh negeri. Apakah yang telah terjadi pada akhir-akhir tahun ini ? Banyak orang-orang yang sering berbicara tentang global warming ! Atau mungkin kita sering mendengar seminar tentang global warming dan climate change??apakah maksud semua ini……?

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

PERANAN SOSIALISASI

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. yaitu dalam setiap waktu pasti membutuhkan bantuan oranglain. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan bantuan orang lain atau hidup secara tersendiri. Dan mereka Saling bersosialisasi antara satu orang dengan orang lain, agar mereka saling mengenal. Pada dasarnya sosialisasi merupakan proses yang bertahap, tidak secara langsung ada pada seseorang. Proses sosialisasi dimulai dari orang yang paling dekat yaitu keluarga. Keluarga memberikan peranan penting dalam proses tersebut. Karena orang yang paling dekat dengan individu dan hampir setiap hari/setiap saat pasti bertemu dengan keluarga. Dan keluarga memberikan dorongan, serta motivasi agar individu tersebutbisa bersosialisasi dengan lingkup yang lebih luas. Kemudian setelah keluarga adalah teman. Apabila dalam keluarga melakukan sosialisasi dengan orang yang tidak sederajat (ayah, ibu, kakak, adek), dalam melakukan sosialisasi dengan teman sepermainan adalah orang yang sederajat. Apabila dalam bersosialisasi seorang individu lebih mengutamakan sifat egoisnya maka kemungkinan besar teman yang ada disekitarnya akan menegurnya, dan individu tersebut akan mengoreksi kepribadiannya, serta berusaha melakukan apa yang disarankan dari temannya.

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

BERPIKIR CERDAS DENGAN HATI YANG BERSIH

Oleh Ahmad Bahrianto

Manusia mahluk yang diciptakan oleh Allah Azza wa jalla, merupakan makhluk yang paling sempurna di bandingkan makhluk ciptaan yang lainnya. Buktinnya manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya, bentuk fisik yang sempurna juga dilengkapoi dengan dua unsur yang sangat istimewa yaitu akal dan nafsu. Dimana dua unsur ini apabila digunakan sesuai dengan Qadarnya akan menampakkan dampak positif yang luar biasa, namun apabila disalahgunakan maka kehancuran dan dampak negatif yang sangat merugikan dan mencelakakan baik orang lain, lingkungan ataupun manusia itu sendiri, bahkan dapat menjadikan dirinya makhluk yang paling rendah dan hina, hal ini sebagaimana yang telah dinyatakan Allah Azza Wa Jalla dalam Al-Qur’an yang suci, Q.S At-Tin : 4-5.

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya kemudian kami kembalikan ia ketempat yang serendah-rendahnya,(asfhal)neraka”.

Dalam ayat ini Allah Azza Wa Jalla memberikan pernyataan bahwa manusia itu diciptakan dengan sebaik-baiknya daripada makhluk ciptaan lainnya. Namun manusia juga dapat berubah menjadi makhluk yang sangat buruk bahkan lebih buruk dan rendah dari makhluk-makhluk yang diciptakan lainnya, apabila ia tidak menggunakan hidupnya dengat cermat dan baik , ia tidak menggunakan potensi yang ada dalam dirinnya tidak menyeimbangkan akal dan nafsu dengan baik dan menjaga Qolbu atau hatinya agar senantiasa bersih dan sehat.

. . . . . .

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

DIARI YANG TERLUPA

Vina sesaat membolak-balikkan bukunya yang berwarna pink. Dihiasi corak bunga-bunga. Wajahnya mendung. Semendung udara sore itu. Emosinya meluap-luap. Darahnya bergejolak. Segala emosinya ia tumpahkan di tangan. Tepatnya di tulisan. Setiap detil tulisannya mengandung sebuah kekecewaan yang begitu dahsyat. Pagi tadi dirinya diputus pacarnya di sekolah. Hatinya  hancur seketika. Seperti petani yang tahu hasil jerih payahnya selama setahun tidak dapat dipanen. Seperti seorang sang pelukis yang menyadari lukisannya ternodai sebelum acara pemeran lukisan. Dan seperti seorang siswa yang kehilangan hasil experimennya setelah meneliti selama 2 tahun!

Baca entri selengkapnya »

Comments (1) »